Oleh Admin SPPG · 27 Agustus 2026 · 3 menit baca
Makanan bersantan merupakan bagian dari kuliner Indonesia yang memiliki cita rasa gurih dan banyak digemari masyarakat. Namun, dalam penyusunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG), makanan yang menggunakan santan tidak disarankan untuk terlalu sering diberikan. Hal ini bukan berarti santan merupakan bahan makanan yang berbahaya, tetapi lebih berkaitan dengan prinsip penyusunan menu yang sehat, seimbang, dan sesuai kebutuhan gizi penerima manfaat.
Santan mengandung lemak, terutama lemak jenuh. Apabila makanan bersantan dikonsumsi dalam jumlah banyak atau terlalu sering, asupan lemak jenuh dapat menjadi berlebihan. Karena itu, penggunaan santan perlu dibatasi agar komposisi lemak dalam menu tetap sesuai dengan kebutuhan gizi. Selain itu, makanan bersantan umumnya memiliki kandungan energi yang cukup tinggi. Dalam penyelenggaraan MBG, setiap menu perlu memperhatikan keseimbangan antara karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah. Penggunaan santan yang berlebihan dapat membuat makanan lebih tinggi lemak dan kalori tanpa memberikan tambahan protein, vitamin, atau mineral yang signifikan. Pembatasan makanan bersantan juga membantu menjaga variasi menu. Menu MBG diharapkan tidak hanya mengutamakan rasa, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keseimbangan gizi. Oleh karena itu, sumber lemak dapat diperoleh dari berbagai bahan dengan jumlah yang terukur, sementara konsumsi lemak jenuh perlu dikendalikan. Jadi, makanan bersantan bukan berarti dilarang atau berbahaya untuk dikonsumsi. Santan tetap dapat digunakan dalam masakan dengan jumlah yang sesuai. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan porsinya agar tidak menyebabkan asupan lemak jenuh berlebihan. Dengan demikian, alasan menu bersantan tidak disarankan terlalu sering dalam MBG adalah untuk mendukung pola makan yang lebih seimbang, mengontrol asupan lemak jenuh dan energi, serta memastikan makanan yang diberikan tetap memenuhi prinsip gizi seimbang.
memang terbaik ...